Posted On January 5, 2026

Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Mahesa Gilang 0 comments
Sealem NextLab >> Teknologi Cerdas >> Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Bayangin kamu meeting sama tim sambil duduk santai di rumah, tapi berasa kayak lagi ngumpul di kantor beneran. Nggak cuma video call biasa—kamu bisa gerakin avatar, nulis di whiteboard virtual, bahkan “ngopi bareng” di pantai digital. Metaverse ubah cara kerja kita mulai tahun ini bukan lagi cerita fiksi ilmiah, tapi realita yang udah dialami ribuan perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menurut proyeksi Gartner yang dipublikasikan untuk tahun 2026, 25% populasi global akan menghabiskan minimal satu jam per hari di metaverse untuk berbagai aktivitas termasuk kerja, belanja, pendidikan, dan hiburan. Yang lebih menarik lagi? McKinsey memproyeksikan metaverse bisa menciptakan nilai ekonomi hingga $5 triliun pada 2030—angka yang setara dengan ekonomi Jepang, ekonomi terbesar ketiga di dunia.

Di Indonesia sendiri, adopsi metaverse untuk dunia kerja juga menunjukkan perkembangan signifikan. Pasar metaverse workplace Indonesia diproyeksikan mencapai nilai US$61,7 juta pada 2025 dan tumbuh dengan CAGR 34,28% hingga mencapai US$269,2 juta pada 2030. Ini bukan angka main-main—ini adalah indikator nyata bahwa transformasi digital di tempat kerja sedang terjadi sekarang.


Statistik Terbaru 2026: Seberapa Cepat Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Mulai Tahun Ini?

Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Data nggak bohong. Riset terbaru Januari 2025 menunjukkan bahwa metaverse memiliki 600-700 juta pengguna aktif bulanan (MAU) di 2025, dengan tingkat penetrasi pengguna mencapai 17,4% di tahun ini, naik dari 14,6% di 2024. Platform seperti Roblox (214 juta MAU), Fortnite (236 juta MAU), dan Minecraft (166 juta MAU) memimpin adopsi ini.

Yang bikin menarik untuk konteks workplace, 52% pengguna metaverse berencana menggunakannya untuk keperluan kerja, bukan sekadar gaming atau hiburan. Ini menunjukkan pergeseran signifikan dari metaverse sebagai platform entertainment menjadi tools produktivitas profesional. Faktanya, data survei terbaru menunjukkan bahwa 60% pengguna metaverse terlibat dalam aktivitas non-gaming, termasuk untuk kerja, pendidikan, dan sosialisasi.

Secara ekonomi, pasar metaverse global bernilai $103,6 miliar di 2025, naik dari $74,4 miliar di 2024. Proyeksi menunjukkan pertumbuhan eksponensial mencapai $507,8 miliar pada 2030. Amerika Serikat memimpin kontribusi ekonomi dengan $23 miliar, diikuti China dengan $15,9 miliar.

Untuk pasar metaverse workplace secara khusus, nilai global diproyeksikan mencapai US$4,9 miliar di 2024 dan tumbuh dengan CAGR 33,43% hingga mencapai US$27,7 miliar pada 2030. Amerika Serikat mendominasi dengan nilai pasar US$1,537 miliar di 2024, tapi negara-negara Asia termasuk Indonesia sedang mengejar dengan pertumbuhan yang pesat.

Buat konteks Indonesia sendiri, pasar metaverse workplace diproyeksikan US$61,7 juta di 2025 dengan pertumbuhan CAGR 34,28% hingga US$269,2 juta pada 2030. Sumber: sealemlab.com mencatat bahwa Gen Z Indonesia makin tertarik dengan workplace solutions yang immersive karena memberikan pengalaman lebih engaging dibanding video call konvensional.


Adopsi Metaverse di Indonesia: Data Terkini 2025

Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Survei terbaru Mei 2025 tentang adopsi metaverse di Asia Tenggara menunjukkan fakta menarik: minimal 70% responden dari Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand sudah pernah mengalami atau menyatakan ketertarikan terhadap brand interaction di metaverse. Indonesia memimpin adopsi ini di kawasan Asia Tenggara.

Pasar metaverse Indonesia secara keseluruhan diproyeksikan mencapai US$874,9 juta di 2024 dan tumbuh dengan CAGR 39,53% hingga US$6,457 miliar pada 2030. Tingkat penetrasi pengguna diproyeksikan meningkat dari 12,6% di 2024 menjadi 35,6% pada 2030, dengan jumlah pengguna mencapai 104,1 juta pada akhir dekade ini.

Kepemimpinan Indonesia dalam adopsi metaverse di Asia Tenggara didorong oleh beberapa faktor: basis digital-native yang besar, budaya gaming yang kuat, dan konsumen yang lebih terbuka terhadap pengalaman virtual dibanding negara lain di kawasan. Rata-rata nilai per pengguna (ARPU) di Indonesia diestimasi US$24,9.

Data dari riset GMO Research & AI Mei 2025 menunjukkan bahwa konsumen Indonesia menunjukkan preferensi seimbang antara gaming dan shopping di metaverse, dengan konsumen pria berusia 10-30 tahun menunjukkan ketertarikan hingga 40% terhadap brand-sponsored gaming experiences. Tingkat adopsi keseluruhan yang tinggi menunjukkan bahwa konsumen Indonesia merangkul format metaverse dengan antusiasme tinggi.


Perusahaan Indonesia yang Udah Terjun ke Metaverse Workplace

Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Kamu pikir metaverse workplace cuma ada di Silicon Valley? Salah besar! Indonesia punya beberapa pemain yang sudah mulai serius di bidang ini.

WIR Group (JK: WIRG), perusahaan teknologi metaverse asal Indonesia, mengumumkan peluncuran prototipe “Metaverse Indonesia” yang bertepatan dengan momentum Presidensi G20 Indonesia 2022. Mereka sudah menjalin kerja sama dengan Bank BRI dan Bank BNI dari sektor finansial, serta berbagai brand retail. WIR Group fokus menghadirkan pengalaman metaverse yang mengutamakan elemen kearifan lokal budaya Indonesia.

PT Telkom Indonesia melalui divisi Digital Business & Technology aktif mengeksplorasi skenario bisnis metaverse. Pada Agustus 2022, Telkom meluncurkan “metaNesia”, sebuah dunia virtual yang dirancang untuk membantu ekonomi digital Indonesia beradaptasi dengan lanskap online yang terus berubah. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian BUMN sebagai bagian dari strategi transformasi digital nasional.

Dari sektor korporasi global yang beroperasi di Indonesia, Infosys (perusahaan IT services yang juga beroperasi di Indonesia) sudah menggunakan metaverse untuk lima area utama: onboarding karyawan baru, pelatihan manajer, kolaborasi tim, dan berbagai fungsi workplace lainnya. Mereka menciptakan avatar yang bisa memberikan feedback real-time dalam simulasi seperti performance appraisal.

Lazada, platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara termasuk Indonesia, mengembangkan virtual marketplace di mana pengguna berinteraksi dengan produk dalam lingkungan 3D dan berpartisipasi dalam virtual events. Inisiatif ini mencatat peningkatan engagement 50% di platform dan kenaikan 20% dalam nilai transaksi rata-rata, membuktikan legitimasi ekonomi dari venture metaverse di kawasan ini.

Namun realitanya, banyak perusahaan Indonesia masih di tahap eksperimen dan piloting. Belum banyak yang fully operational karena biaya infrastruktur dan kurva pembelajaran yang cukup curam, ditambah dengan tantangan infrastruktur digital yang akan kita bahas di bagian selanjutnya.


Teknologi yang Bikin Metaverse Workplace Beneran Jalan

Metaverse Ubah Cara Kerja Kita Tahun 2026

Ngomongin metaverse workplace, kita nggak bisa lepas dari teknologi pendukungnya. Data terbaru 2025 menunjukkan bahwa pengiriman VR headset global mencapai 65 juta unit, dipimpin oleh Meta, Sony, dan Apple. Meta Quest 4 menjadi VR headset terlaris 2025 dengan menguasai 31% pangsa pasar global.

Teknologi Augmented Reality (AR) juga tumbuh pesat—adopsi AR glasses meningkat 47% year-over-year dengan lebih dari 18 juta unit terjual di 2025. Lebih dari 1,7 miliar orang aktif menggunakan perangkat mobile AR pada 2023, dan jumlah ini terus meningkat. Smart haptic wearables, termasuk vest dan gloves, kini menyumbang $3,2 miliar dalam pengeluaran konsumen tahunan.

Yang menarik, 60% pengguna metaverse mengakses konten melalui perangkat mobile, menekankan pentingnya kompatibilitas cross-platform. Rata-rata harga VR headset mid-range di 2025 turun menjadi $399, meningkatkan aksesibilitas. Teknologi eye-tracking kini hadir di 40% headset yang baru dijual, meningkatkan fidelitas interaksi.

Tapi ada catatan penting untuk Indonesia: penetrasi 5G di Indonesia baru 2,5% pada 2022, jauh tertinggal dari Thailand (13,5%), Korea, dan China (hingga 34%). Menurut pakar dari China dalam bukunya tentang metaverse, adopsi massal metaverse baru akan terjadi ketika 60% populasi punya akses ke 5G, karena teknologi ini membutuhkan internet super cepat dengan latency rendah.

Selain infrastruktur, ada masalah aksesibilitas perangkat. Data dari IDC 2023 menunjukkan penjualan smart glasses di Indonesia masih di bawah 1% dari total penjualan perangkat teknologi. Prediksinya, adopsi massal smart glasses baru akan terjadi ketika harganya turun ke sekitar $200—masih jauh dari harga saat ini.

Di Indonesia, integrasi teknologi VR dan AR menjadi tren utama di pasar metaverse workplace, memungkinkan pengguna berinteraksi dengan lingkungan virtual secara lebih realistis. Perusahaan di sektor properti, arsitektur, dan manufaktur mulai memanfaatkan ini untuk showcase produk mereka dalam environment virtual.


Tantangan yang Harus Dihadapi Indonesia: Data Riset Terbaru

Meskipun potensinya besar, Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam adopsi metaverse workplace.

Tantangan SDM: Berdasarkan data LinkedIn, hanya sekitar 1% dari semua profesional IT di Indonesia yang punya expertise dalam pengembangan aplikasi virtual reality, padahal keahlian ini sangat dibutuhkan untuk membangun metaverse. Ini gap yang sangat besar mengingat kebutuhan talent yang terus meningkat.

Infrastruktur Digital: Seperti disebutkan sebelumnya, penetrasi 5G Indonesia masih sangat rendah di 2,5%. Dengan proyeksi bahwa massa adoption memerlukan 60% penetrasi 5G, Indonesia masih punya jalan panjang. Pemerintah Indonesia sudah mengalokasikan sekitar IDR 1,5 triliun (sekitar USD 100 juta) untuk inisiatif transformasi digital di masa depan untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor.

Awareness dan Pemahaman: Survei terbaru menunjukkan bahwa hanya 25% bisnis Indonesia familiar dengan konsep dan aplikasi metaverse. Kurangnya awareness ini menjadi hambatan signifikan karena perusahaan cenderung ragu untuk berinvestasi dalam teknologi yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Biaya Investasi Awal: Implementasi teknologi metaverse di Indonesia memerlukan investasi awal yang substansial, seringkali melebihi IDR 10 miliar (sekitar USD 670.000) untuk perusahaan menengah. Hambatan finansial ini bisa menghalangi banyak organisasi untuk mengadopsi solusi ini, khususnya di sektor dengan budget ketat.

Keamanan Data dan Privasi: Survei menunjukkan 55% pengguna metaverse khawatir soal tracking dan penyalahgunaan data pribadi. Di Indonesia, awareness tentang data privacy masih relatif rendah, yang bisa jadi masalah serius. Indonesia baru saja meratifikasi undang-undang Perlindungan Data Pribadi (PDP), tapi sayangnya belum tersosialisasi dengan baik.

Aksesibilitas Perangkat: Survei menunjukkan 50% responden mengidentifikasi harga VR headset yang lebih murah sebagai driver utama untuk adopsi metaverse. Selama perangkat masih mahal, adoption rate di Indonesia akan tetap lambat.

Namun ada kabar baik: Menteri Kominfo Johnny G. Plate menyatakan bahwa Indonesia tidak ketinggalan dalam perkembangan metaverse, dengan berbagai perusahaan lokal yang mulai mengembangkan teknologi ini. Pemerintah memprediksi bahwa pada 2026, seperempat populasi dunia termasuk Indonesia akan aktif di metaverse.


Masa Depan Kerja 2030: Hybrid Physical dan Virtual

Jadi, gimana sih bentuk kerja kita nanti? Proyeksi menunjukkan pada 2030, platform metaverse bisa punya 2,63 miliar pengguna aktif—hampir sepertiga populasi dunia. Ini bukan lagi soal “apakah” metaverse akan mengubah cara kerja kita, tapi “seberapa cepat” kita bisa adaptasi.

Laporan McKinsey menunjukkan 99% pemimpin bisnis mengantisipasi metaverse akan membawa dampak positif pada industri mereka dalam 5-10 tahun ke depan, dengan 31% memprediksi metaverse akan mengubah fundamental cara industri mereka beroperasi. McKinsey juga memprediksi bahwa lebih dari 50% live events akan diadakan di metaverse pada 2030.

Untuk proyeksi bisnis, 30% organisasi di seluruh dunia diperkirakan akan memiliki produk dan layanan siap untuk metaverse pada 2026. E-commerce diproyeksikan menjadi kontributor ekonomi terbesar dengan nilai antara $2,0-2,6 triliun pada 2030, diikuti oleh virtual learning ($180-270 miliar), advertising ($140-206 miliar), dan gaming ($108-125 miliar).

Di Indonesia khususnya, pasar metaverse workplace akan terus tumbuh didorong oleh populasi yang besar, ekonomi digital yang berkembang pesat, dan meningkatnya jumlah startup serta perusahaan teknologi. Pasar metaverse Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 40% antara 2025-2033, menunjukkan peluang investasi yang signifikan.

Data dari Mei 2025 menunjukkan bahwa konsumen Indonesia di kelompok usia 40+ juga menunjukkan ketertarikan yang considerable, khususnya untuk use case praktis seperti virtual shopping dan product demonstrations. Ini menunjukkan bahwa adopsi metaverse nggak cuma fenomena generasi muda.

Yang penting diingat: metaverse nggak akan sepenuhnya menggantikan interaksi fisik. Yang lebih realistis adalah model hybrid—beberapa aktivitas seperti brainstorming intensif, onboarding, atau training cocok dilakukan di metaverse, sementara kegiatan lain tetap lebih efektif secara fisik.

VR training dilaporkan mengurangi workplace injuries hingga 43%, menunjukkan manfaat konkret dari implementasi teknologi ini. Dalam healthcare, 40% penyedia layanan kesehatan sudah menggunakan VR untuk perawatan pasien dan training staff di 2024. Di pendidikan, 30% universitas di seluruh dunia kini menawarkan kursus berbasis VR.


Tips Persiapkan Diri untuk Era Metaverse Workplace

Oke, setelah tahu semua fakta di atas, pertanyaannya: apa yang bisa kamu lakuin sekarang?

Pertama, familiarize yourself dengan teknologi VR/AR. Nggak harus langsung beli headset mahal—mulai dari aplikasi AR di smartphone atau coba platform seperti Roblox atau Horizon Worlds buat dapetin feel-nya. Dengan harga mid-range VR headset yang turun ke $399 di 2025, aksesibilitas makin membaik.

Kedua, tingkatkan digital literacy. Perusahaan-perusahaan di industri seperti real estate, arsitektur, dan manufaktur udah mulai memanfaatkan metaverse workplace untuk showcase produk dan layanan. Kalau kamu di bidang ini, coba pelajari gimana tools virtual bisa enhance pekerjaan kamu.

Ketiga, ikut komunitas dan diskusi tentang metaverse. Indonesia punya banyak tech community yang actively discuss Web3, metaverse, dan future of work. Join grup-grup ini, ikut webinar atau workshop—networking di era digital itu penting banget. Beberapa inisiatif seperti Nakama.id dan Asian Blockchain Association (ABA) menawarkan training dan edukasi terkait metaverse.

Keempat, jangan lupa soft skills. Meskipun teknologinya canggih, komunikasi, kolaborasi, dan critical thinking tetap jadi kunci. Metaverse cuma alat—yang menentukan efektivitas tetap manusianya. Data menunjukkan 60% gamer terlibat dalam virtual experiences di metaverse yang nggak terkait gaming langsung, menunjukkan pentingnya kemampuan adaptasi lintas platform.

Kelima, pahami data privacy dan security. Dengan 55% pengguna yang khawatir tentang tracking dan penyalahgunaan data, penting buat kamu untuk memahami bagaimana data kamu digunakan dan dilindungi di platform metaverse yang kamu gunakan.


Metaverse ubah cara kerja kita mulai tahun ini bukan lagi wacana, tapi realita yang sedang berlangsung. Dengan proyeksi 25% populasi dunia yang akan menghabiskan minimal satu jam per hari di metaverse pada 2026 dan potensi nilai ekonomi mencapai $5 triliun pada 2030, ini adalah momen yang tepat buat Gen Z Indonesia kayak kamu untuk mulai adaptasi.

Baca Juga 25 Inovasi Generative AI Indonesia 2025

Indonesia punya potensi besar—populasi muda yang tech-savvy, pasar metaverse workplace yang diproyeksikan tumbuh 34,28% per tahun hingga 2030, pemerintah yang supportive, dan ekonomi digital yang berkembang pesat. Tantangannya memang masih banyak, dari infrastruktur 5G yang baru 2,5%, SDM ahli VR yang cuma 1% dari total profesional IT, hingga awareness bisnis yang baru 25%, tapi peluangnya juga sangat besar.

Dengan 600-700 juta pengguna aktif bulanan di 2025 dan proyeksi mencapai 2,63 miliar pengguna pada 2030, metaverse workplace bukan sekadar tren teknologi—ini adalah transformasi fundamental dalam cara kita bekerja, berkolaborasi, dan berinteraksi secara profesional.

Poin mana yang paling menarik atau bermanfaat buat kamu? Apakah data tentang pertumbuhan 34,28% pasar Indonesia, atau fakta bahwa 52% pengguna metaverse menggunakannya untuk keperluan kerja? Share pendapat kamu dan mari kita diskusikan bagaimana Indonesia bisa memaksimalkan peluang di era metaverse workplace ini!

Related Post

Cybersecurity Dokumen Perlindungan Baru 2025: 7 Strategi Wajib yang Harus Gen Z Indonesia Tahu!

Cybersecurity Dokumen Perlindungan Baru 2025 bukan lagi opsi, tapi kebutuhan darurat! Bayangkan: Indonesia menghadapi rata-rata…

Profesi Baru AI dan Evolusi Dunia Kerja di Era Digital

Kecerdasan buatan tak hanya mengubah cara bekerja, tapi juga menciptakan jalur karier yang dulu tak…

Metaverse Mulai Sepi, Kenapa Ya?

Tahun 2025 ini, pertanyaan Metaverse Mulai Sepi, Kenapa Ya semakin sering terdengar di kalangan tech…